Showing posts with label Bandung. Show all posts
Showing posts with label Bandung. Show all posts

Friday, January 24, 2014

SURAT DARI "GEMBEL INDONESIA" UNTUK WALIKOTA BANDUNG:




Bapak walikota saya gembel indonesia, asli pemulung bukan pengemis, tujuh turunan. Tolong jangan selalu memusuhi kami, kami ingin hidup menyekolahkan anak tanpa diberi bantuan (dirazia, dimasukan ke panti sosial, panti asuhan) siapapun, karena bantuan itu selalu ada syaratnya, dan saya yakin masih mampu dan sanggup menafkahi keluarga. 
Karena saya ga punya identitas, hidup selalu di jalan dan dipandang selalu lebih buruk dari sampah. Kami sekeluarga selalu terbuang oleh aturan walikota, dari dibuang di karawang - subang, sampe hutan majalaya.
Tapi kami doakan agar cita-cita bapa membuat bandung juara bisa tercipta, walau kami harus mati terlunta-lunta, dan kedua anak saya yang sekolah terpaksa akan saya berhentikan, daripada nanti anak saya pintar menjadi penindas seperti bapa, lebih baik anak saya tetap menjadi gembel makan sisa orang lain tapi tidak menindas seperti bapa.
"Lemah dan selalu salah, takan menyerah"

Dari "Gembel Indonesia" yang selalu bergentayangan di jalan dan menuju selamat dunia akhirat..

Sunday, December 15, 2013

Kaum Malang Bukan Ancaman untuk Bandung Juara

Setelah malam minggu kemarin adik-adik kami diancam oleh pemimpin kota Bandung, pagi ini minggu 15 desember 2013 ternyata semua adik - adik kami di jl. seram di angkut paksa ke dalam mobil truk khas "penertib" beserta semua ibunya. Mereka di bawa ke beberapa titik dengan ketidak jelasan. Sempat kami mencari mereka ke pendopo dan balai kota, tapi ternyata mereka sudah tak ada di tempat itu lagi. Dari siang sampai jam 5 sore kami mencari, sampai akhirnya di perjalanan menuju titik pencarian terakhir (markas pol PP), ketika lewat taman jl. seram kami melihat mereka (adik-adik dan ibunya) sudah bebas. Mereka nampak lelah dan masih terlihat tegang juga emosional.

Mereka kemudian bercerita, dan seperti dugaan kami, mereka ditangkap dan dibawa berkeliling kota tidak jelas, katanya sih mencari walikota (untuk melapor). Setelah itu mereka hanya ditanya nama dan kemudian diancam lagi, jika tertangkap untuk yang 3 kalinya mereka akan dikirim ke cirebon selama 3 bulan, katanya. Dan yang paling tidak manusiawi adalah ada yang berkata "jika ibu tidak sanggup lagi ngurus anak, sudah masukin aja mereka ke panti asuhan dan ibu ikut pelatihan (pelatihan yang bahkan belum tentu si ibu butuhkan)", dan setelah itu mereka dibebaskan.

Namun ada yang menarik dari cerita mereka, ditengah cerita mereka berkisah bahwa ternyata ada komandan pol PP sempat curcol (curhat colongan), dia berkata "ya mau gimana lagi bu, kita cuma menjalankan perintah, kita juga bingung" (silahkan artikan sendiri maksud perkataannya).

Dan singkat cerita para ibu pun dengan emosional berkata, "kita juga sadar, kalo kita salah udah nyuruh anak kerja, apalagi di bawah umur tapi harusnya kalo mau ngilangin kita dari jalan jangan asal tangkep atau 'dibuang' begitu aja, harusnya pemerintah kasih kami (para ibu/bapak) kerjaan, terlebih modal buat usaha, kan banyak tuh anggaran buat bantuan sosial dari pajak masyarakat"



Sekali lagi kami mendukung penuh cita - cita Pak Walikota yang ingin membenahi Bandung dan menjadikan Bandung Juara. Tapi ingat jangan korbankan kaum miskin, jangan pernah bebenah Bandung dengan tidak mengindahkan kehidupan kaum malang (miskin), siapapun dia dan dari manapun asalnya, karena kami yakin Bandung takan mampu hidup tanpa ada daerah-daerah lain disekitar dan daerah yang jauh sekalipun yang berkontribusi untuknya (bandung). Dan jika tidak ingin kaum miskin berkeliaran lagi di jalan - jalan kota serta mengganggu keindahan pandangan TUAN, beri kaum malang ini solusi kongkret; pekerjaan atau modal usaha, pendidikan dan kesehatan GRATIS TANPA SYARAT. Jangan lihat kaum miskin sebagai sebuah ancaman untuk cita - cita "Bandung", tapi lihatlah kami sebagai korban dari angkuhnya masyarakat juga kebijakan pemerintah.

Thursday, July 26, 2012

Angkuhnya Warga Kota, ya setidaknya itulah yang kami lihat dan rasa


Belum hilang dari ingatan saat anak-anak taman (sebutan untuk anak jalanan yang kami dampingi di TamanHarapan) dan orangtuanya di gelandang petugas pol pp ketika diadakan penertiban dalam rangka penyambutan sibeye (sebutan untuk tuan presiden kita) yang akan berkunjung ke kota kembang beberapa waktu lalu, yang konon katanya -si tuan- berkunjung untuk meresmikan salah satu simbol penindas (dibaca: kapitalis) di daerah gatot subroto atau TSM. Dan pada hari rabu kemarin hal serupa terjadi lagi dengan alasan yang berbeda, namun mungkin juga sama.

Rabu siang sekitar 2 bis polisi beserta pol pp kembali menyisir jalan seram-martadinata dan mungkin lokasi-lokasi lain juga untuk menciduk orang-orang yang mereka sebut gelandangan, pengemis, preman dan semua orang yang mereka anggap mengganggu keindahan kota (masyarakat pra-sejahtera). Kebetulan waktu itu saya berada di taman sedang berbincang bersama kawan Buluk dan pada waktu yang bersamaan di taman ada satu anak yang berjualan cobek, namanya Pulloh (walau tidak dipungkiri sebagian orang menyebut pekerjaan Pulloh dkk adalalah mengemis). Seketika para petugas turun dari bis langsung menghampiri Pulloh dan hendak membawanya, saya pun langsung menghampiri petugas itu dan coba bertanya -ada apa ini pak?-, sang petugas menjelaskan kalo di bulan ramadhan ini tidak boleh ada orang-orang seperti Pulloh di jalan, mungkin karena pekerjaan Pulloh yang mengganggu keindahan kota pikir saya. Dan saya pun coba menjelaskan kondisi Pulloh serta keberadaan TH (TamanHarapan) disana, sampai akhirnya Sang Ibu Komandan-nya pun menghampiri kami. Sang komandan menyampaikan bahwa banyak sekali KELUHAN DARI WARGA KOTA yang merasa sudah tidak nyaman di jalanan kota sekarang karena dipenuhi dengan aktifitas orang-orang semacam Pulloh, sang komandan melanjutkan dengan mengancam akan memasukan Pulloh dan ibunya ke panti sosial selama 3 bulan jika membandel, karena aktifitas ibu Pulloh dkk melanggar undang-undang katanya.

Saya pun coba menjelaskan kembali kondisi Pulloh dan apa yang TH gagas di taman, serta lantas menyampaikan kritik saya terhadap pola - pola pemerintah, dalam hal ini solusi dari dinas sosial seperti yang tadi sang komandan jelaskan. Solusi yang ditawarkan sangat tidak solutif karena setelah masyrakat pra-sejahtera semacam Pulloh dkk tadi dibina keahliannya selama 3 bulan di panti sosial, mereka dilepaskan kembali ke dalam realitas sosial yang penuh persaingan bebas tanpa pembekalan yang lebih kongkret, semisal modal usaha yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan ataupun akses untuk bekerja. Dengan pola yang dilakukan pemerintah seperti itu saya rasa tidak akan dapat menyelesaikan persoalan apapun, karena dikemudian hari sesuai naluri manusia untuk mencari hidup, ketika mereka kalah dalam persaingan untuk mendapatkan pekerjaan, mereka akan lebih memilih kembali ke jalan daripada harus mati dirumah dengan tanpa usaha maupun pekerjaan. Sekali lagi yang dibutuhkan masyarakat pra-sejahtera ini bukanlah sekedar pembekalan selama tiga bulan, yang dibutuhkan adalah pendampingan secara konsen dan konsisten untuk dapat "menyentuh" mereka dan membukakannya akses kerja yang lebih real, karena untuk dapat bertahan hidup di tengah sistem pasar persaingan bebas seperti hari ini, dibutuhkan lebih dari sekedar kemampuan, tapi dibutuhkan juga akses kerja yang kongkret, manusiawi dan tidak tipu - tipu.

Dan akhirnya perdebatan diantara kami pun diakhiri dengan "pengertian(?)" sang komandan untuk tidak membawa Pulloh beserta ibunya. Tapi tetap saja pengertian dari para petugas hari itu tidak akan membebaskan Pulloh dkk dari penindasan. Siklus penindasan (dibaca: pencidukan) itu akan berulang di lain hari, karena PARA PETINGGI petugas itu akan terus MENCARI AMAN untuk mengatasi berbagai macam keluhan dari WARGA KOTA YANG ANGKUH...!


Dadan Wijana, 26 juli 2012
 

Komunitas Taman Harapan Copyright © 2011 -- Template design by Brun -- Powered by Blogger